JADI PEMIMPIN JANGAN CUEK

“Leadership is about empathy. It is about having the ability to relate to and connect with people for the purpose of inspiring and empowering their lives.” (Oprah Winfrey)

Disaat seseorang melakukan suatu kesalahan. Seringkali seorang pemimpin terlalu sibuk untuk bertanya perihal perbaikan apa yang harus dilakukan agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang kembali.

Ia terlalu sibuk, hingga lupa untuk sekedar bertanya masalah apa yang tengah seseorang hadapi.

Ia terlalu sibuk, hingga lupa meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan keluh kesah seseorang.

Ia terlalu sibuk, hingga lupa untuk menawarkan bantuan kepada seseorang.

Bahkan, tak sedikit Pemimpin yang begitu kecewa, marah dan begitu meledak-ledak tatkala seseorang melakukan kesalahan.

Padahal, penurunan kinerja seseorang pada hakekatnya tidak melulu disebabkan karena proses kerja atau keterampilan kerja saja.

Pada kondisi tertentu, seringkali hal-hal yang bersifat pribadi begitu hebatnya dalam mengganggu pikiran dan kesehatan seseorang. Tentu hal tersebut sangat berdampak pada kinerja seseorang.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa alat yang paling ampuh dalam menentukan keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam berempati. Ini adalah alat yang mampu menginspirasi dan memotivasi orang-orang agar mau dan rela dalam mengikuti, untuk menjanjikan kesetiaan dan kepercayaan mereka kepada seseorang.

Kemampuan untuk mengenali dan berbagi perasaan dengan orang lain adalah apa yang membedakan seorang pemimpin yang baik dari yang hebat. Baik memimpin tim startup kecil, multinasional besar, ataupun memimpin Negara, hubungan emosional sejatinya adalah kunci kesuksesan seorang pemimpin.

Tidak dapat dipungkiri, kecakapan membaca kondisi hati seseorang sejatinya sangat diperlukan bagi seorang Pimpinan. Kecakapan tersebut perlu terus dilatih, diterapkan hinga pada akhirnya dapat membantu seorang Pemimpin dalam membaca dan mengelola motivasi kerja seseorang.

Dan saya begitu takjub kepada mereka yang mau dan tulus untuk mencurahkan segenap waktu dalam membantu seseorang bangkit dari keterpurukannya.

Sedikit waktu saja, asal ada itikad baik. Saya yakini, niat dan usaha baik tersebut akan memiliki arti yang teramat bermakna. Bukan hanya pada kinerja seseorang, melainkan kehidupan seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.